TEORI PEMBELAJARAN HUMANISME

Tanggal : 26 Dec 2023

Ditulis oleh : MUHAMMAD RAFIQ FADHIL F.

Disukai oleh : 0 Orang

Kemampuan setiap orang dalam memahami pembelajaran berbeda-beda. Ada orang yang membaca dan memahami dengan cepat, ada yang mendengarkan dan memahami dengan cepat, dan ada pula yang memberikan petunjuk dan memahami dengan cepat. Model dan metode pembelajaran sangatlah banyak dan setiap orang mempunyai cara belajarnya masing-masing.

Bagi seorang  pendidik, memikul tanggung jawab besar untuk melaksanakan tugas mencerdaskan negara bukanlah suatu tugas yang  mudah. Oleh karena itu, proses pengajaran juga memerlukan persiapan yang baik dan matang untuk memastikan  materi atau ilmu dapat tersampaikan dengan baik.

Selain itu, mengajar bukanlah tugas yang mudah, hanya sekedar memberikan materi. Namun ada kewajiban besar di balik hal tersebut, yaitu harus menjadikan siswa yang berbeda kemampuan memahami silabus yang sama.

Untuk itu perlu dipahami bahwa mengajar bukan sekedar menyampaikan materi, melainkan mengajar adalah bagaimana guru menerapkan pendekatan sistematis dan psikologis terhadap siswanya agar dapat memahaminya.

Karena hanya dengan memahami siswa maka pendidik dapat mengetahui cara memperlakukannya dengan baik sehingga ilmu dapat tertular dengan baik kepada siswa. Ketika membahas metode pembelajaran, hal ini mungkin  biasa terjadi di kalangan staf pengajar dan guru. Tapi ini bisa jadi sangat aneh bagi  orang tua dan orang lain.

Padahal, apapun profesi kita saat ini, cepat atau lambat semua orang  akan menjadi calon orang tua dan juga perlu diberi edukasi tentang metode pembelajaran untuk anak-anaknya kelak.

Pada artikel kali ini kita akan membahas salah satu teori metode pembelajaran yaitu teori humanisme yang  dapat memberikan wawasan kepada calon guru, calon guru hybrid bahkan calon orang tua.

 

 

 

Teori pembelajaran humanistik

Teori pembelajaran humanistik merupakan teori pembelajaran yang bertujuan untuk menciptakan hal-hal yang baik bagi kemanusiaan dan dapat menjadikan manusia mampu memiliki kesadaran diri. Setiap orang mempunyai kemampuan belajar yang berbeda-beda, oleh karena itu guru tidak bisa hanya menggunakan satu teori  dalam mengajar siswa. Ada banyak teori belajar yang dapat disesuaikan dengan kepribadian dan kemampuan siswa, termasuk teori belajar humanistik.

 

  1. Teori Belajar Humanistik Menurut Carl Ransom Rogers

Menurut Carl Ransom Rogers, Teori Belajar Humanistik adalah suatu proses pembelajaran yang memerlukan sikap saling menghormati dan saling pengertian antara siswa dan guru, tanpa adanya bias dari kedua belah pihak, agar proses pembelajaran berjalan dengan baik. akan bekerja dengan baik. Menurut R. Rogers, pembelajaran harus melibatkan aspek intelektual dan emosional siswa. Oleh karena itu, motivasi belajar harus dimiliki oleh individu pembelajar. (Viandari, 2021)

Roger membedakan dua ciri belajar, yaitu:

  1. Pembelajaran bermakna dan
  2. Pembelajaran yang tidak berarti. Pembelajaran bermakna terjadi jika  proses pembelajaran melibatkan aspek berpikir dan emosional siswa, dan pembelajaran tidak bermakna terjadi jika  proses pembelajaran melibatkan aspek berpikir tetapi tidak memperhatikan aspek emosional siswa.

Menurut Rogers, pembelajaran mempunyai tiga unsur penting:

  1. Peserta didik dihadapkan pada permasalahan dunia nyata yang ingin dicari solusinya.
  2. Jika kesadaran terhadap masalah sudah terbentuk, maka akan terbentuk pula sikap terhadap masalah tersebut. Pada tahap ini, sikap dibentuk melalui proses pencarian fakta, penerimaan, dan empati.
  3. Adanya sumber belajar baik manusia maupun materi, tertulis atau cetak.
  4. Menurut Rogers, keberhasilan belajar  terletak pada kontribusinya (siswa) terhadap kesadaran akan kemampuannya sendiri, karena pada hakikatnya manusia mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalahnya sendiri.

 

 

 

  1. Teori belajar humanistik Menurut Arthur Combs

Menurut Arthur Combs yang dimaksud dengan teori belajar humanistik adalah teori pembelajaran yang memanusiakan manusia. Pembelajaran ini berpusat pada kepribadian. pria. Teori ini juga berfokus pada bagaimana pendidikan menciptakan sesuatu yang produktif dengan  meningkatkan kreativitas dan memanfaatkan potensi yang dimiliki.

Arthur Combs juga berpendapat bahwa banyak guru yang salah berasumsi bahwa siswanya akan belajar jika bahan ajar disusun dengan baik. Guru juga dapat memahami perilaku siswa jika mereka memahami bagaimana siswa berperilaku dalam situasi tertentu. Siswa yang tidak mau mengenali potensinya akan kehilangan proses pembelajaran.

Penerapan teori pembelajaran humanistik dan sosial yaitu:

  1. Merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas.
  2. Menerapkan kontrak belajar kepada siswa
  3. Mendorong siswa untuk berpikir kritis dan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dalam arti dapat mengemukakan pendapatnya
  4. Menyajikan hasil kepada siswa Memberikan kesempatan untuk maju dalam penyelesaian.

 

  1. Teori Pembelajaran Humanistik Abraham Maslow

Abraham Maslow dikenal sebagai bapak aliran pemikiran humanistik. Ia berpendapat bahwa perilaku manusia pada dasarnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hierarkis. Maslow percaya bahwa manusia berusaha untuk memahami dan menerima dirinya sebaik mungkin. Teori yang sangat terkenal adalah hierarki kebutuhan Maslow. Maslow menjelaskan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Andy Setiawan, ND). Maslow berpendapat bahwa manusia mempunyai hierarki kebutuhan, mulai dari kebutuhan fisik yang paling dasar hingga kebutuhan tertinggi atau kebutuhan estetika (Wasitohadi, 2012).

Jika seseorang mampu memenuhi semua kebutuhan tingkat rendahnya, maka motivasinya akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. Pendidikan yang sukses pada hakikatnya adalah kemampuan menyampaikan makna antara pendidik dan peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan menjadi manusia yang lebih baik dan bijaksana. Tujuannya agar siswa sadar akan perlunya pendidikan karakter. Pendidik membantu siswa mengeksplorasi, mengembangkan, dan menerapkan keterampilan mereka untuk memaksimalkan potensi dan bakat serta kecenderungan spesifik mereka. Jenis aktualisasi diri ini muncul dengan sendirinya, tetapi tidak sama untuk semua orang. (Ibid, tanpa tanggal)

Perspektif ini berkaitan erat dengan keyakinan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipenuhi sebelum kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi dapat dipenuhi. Menurut hierarki kebutuhan Maslow, pemenuhan kebutuhan manusia dimulai dari tingkat yang paling bawah.

1) Fisiologis, 2) Keamanan, 3) Cinta dan Kepemilikan, 4) Harga Diri, 5) Aktualisasi Diri (Jhon W. Santrock, n.d.)

Artinya, keinginan aktualisasi diri adalah kecenderungan seseorang untuk  terus menerus menggunakan seluruh kemampuan dan cita-citanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sekalipun kebutuhan-kebutuhan di atas terpenuhi, seperti kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan cinta, dan rasa memiliki termasuk kebutuhan akan rasa syukur, masyarakat tetap akan diliputi perasaan tidak puas. Ketidakpuasan ini datang dari dorongan hati terdalamnya, karena ia merasa memiliki kualitas dan potensi  yang belum terealisasi dalam dirinya. Pada hakikatnya, seseorang  dituntut untuk jujur terhadap segala potensi dan kualitas yang ada dalam dirinya.

 

  1. Teori Pembelajaran Humanistik oleh Jürgen Habermas

Menurut Jürgen Habermas, pembelajaran terjadi ketika ada interaksi antara individu dengan lingkungan belajarnya. Lingkungan belajar mengacu pada lingkungan sosial dan alam. Karena keduanya terhubung. (Budinigsih, 2004 ). Bisa dikatakan, teori belajar humanisme dan sosialadalah teori pembelajaran yang sistem pembelajarannya sesuai dengan psikologi manusia.

Belajar dengan adannya interaksi antara individu dengan lingkungan alamsekitarnya dan lingkungan sosialnya. Teori belajar humanisme sifatnya lebih mengarah di bidang kajian filsafat, teori kepribadian, psikologi, dan psikoterapi. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep pembelajaran untuk membentuk seseorang untuk bisa menggapai apa yang di harapkannya di masa depan nantinya serta tentang proses belajar dalam bentuk yang ideal.

 

 

 

Menurut Jürgen Habermas, ada tiga tahap pembelajaran. Itu adalah:

  1. Pembelajaran Teknis (Technical Learning)

Pembelajaran teknis dipahami sebagai pembelajaran bagaimana berinteraksi dengan alam lingkungan  secara baik dan benar. Ini adalah kursus teknis di mana Anda mempelajari pengetahuan dan keterampilan  yang diperlukan untuk berhasil berinteraksi dengan lingkungan alam.

  1. Pembelajaran Praktis  

Pembelajaran Praktis adalah mempelajari bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya yaitu dengan orang-orang disekitarnya. Kegiatan pembelajaran menitikberatkan pada interaksi yang harmonis antar  manusia. Pembelajaran teknis ini digunakan dalam bidang keilmuan seperti sosiologi, psikologi,  dan antropologi.

  1. Pembelajaran Emansipatoris

Pembelajaran Emansipatoris merupakan metode pembelajaran untuk memperoleh pemahaman dan kesadaran tingkat tinggi terhadap perubahan sosial dan perkembangan budaya masa kini. Oleh karena itu,  pengetahuan dan kreativitas sangat diperlukan untuk mendukung  perkembangan kebudayaan suatu masyarakat.

Ketika seseorang memahami dan sadar akan perubahan kondisi  dan perkembangan kebudayaannya, maka  dianggap telah  mencapai tingkat pembelajaran tertinggi.

Dari tahapan pembelajaran tersebut diharapkan siswa dapat sadar akan dirinya  dan lingkungan sosialnya. Inti dari teori pembelajaran humanistik adalah perolehan kebijaksanaan dan kearifan dalam hidup.

Dengan demikian, siswa dapat sadar akan dirinya dan lingkungannya, serta peran sosial yang harus dijalankannya dalam lingkungan hidupnya, dan pada akhirnya membantu siswa agar potensi yang ada dalam dirinya dapat tergarap secara maksimal. (Widya, 2018)

 

Kelebihan

Dibawah ini manfaat teori belajar humanistik yang bermanfaat bagi setiap individu.

  1. lMeningkatkan minat belajar individu
  2. lMembantu dalam membangun karakter dan mengubah sikap ke arah positif dan hati nurani.
  3. lMembantu meningkatkan kreativitas pada setiap orang.
  4. lMenumbuhkan cara berpikir yang cerdas dan menyeluruh serta sikap yang baik.
  5. lKita bisa memberikan pengalaman  baru dan menarik kepada setiap orang.
  6. lMembina individu dan mendukung aktualisasi diri.

 

Kekurangan

Namun teori ini juga memiliki beberapa kelemahan dan mungkin kurang tepat jika diterapkan pada beberapa anak.

  1. lTeori humanistik ini dapat menimbulkan perilaku individualistis.
  2. lJika siswa tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran, maka proses pembelajaran dapat dianggap gagal.
  3. lGuru sebagai moderator memainkan peran bawahan.
  4. lPendekatan pembelajaran humanistik ini tidak dapat dijadikan metode pembelajaran praktis.
  5. lTerdapat perbedaan dan kesenjangan yang signifikan antara pelajar dan mahasiswa.

 

Aplikasi dalam Pembelajaran

Dalam teori ini guru berperan sebagai fasilitator, maka langkah-langkah berikut akan dilakukan sebagai fasilitator.

  1. Pada awal pertemuan guru dapat memotivasi siswa agar bersedia mengikuti pembelajaran.
  2. Tujuan pembelajaran dijelaskan oleh guru, namun jika ada siswa yang kurang paham, guru menjelaskannya kembali untuk memastikan siswa benar-benar memahami arah pembelajaran.
  3. Penting bagi instruktur dan guru untuk memahami sifat dan watak siswa yang diajarnya agar dapat menyesuaikan dengan keinginan siswa.
  4. Membuat materi mudah didapat melalui berbagai media kreatif agar siswa tidak bosan. B. Buku atau modul pendidikan dan perlengkapan audiovisual.
  5. Menjalin komunikasi yang baik dengan siswa agar dapat mengatur proses pembelajaran.
  6. Mendorong siswa untuk lebih kreatif dan  peka terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar.
  7. Memberikan suasana belajar yang kondusif.
  8. Melaksanakan kegiatan yang memungkinkan siswa aktif sepanjang proses pembelajaran.

Agar para guru dan calon guru dapat menerapkan teori pembelajaran humanistik ini dengan baik dalam praktiknya, diperlukan pula pemahaman terhadap teori-teori pembelajaran lainnya. Berbagai metode pembelajaran dapat dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan  yang berbeda-beda.

 

Penerapan dalam Kehidupan

Dapat kita simpulkan bahwa teori humanistik adalah  teori  pendekatan pembelajaran yang lebih humanistik atau humanistik. Bukan hanya karena teori-teori lain bersifat impersonal, namun karena teori tersebut memungkinkan adanya pengalaman belajar yang relevan bagi siswa yang terlibat.

Dengan demikian diharapkan siswa yang menggunakan pendekatan pembelajaran ini dapat mencapai hasil yang maksimal karena dapat menikmati proses belajar dengan baik. Pencapaian terbesar di sini adalah menghasilkan tidak hanya hasil akademis yang lebih baik, namun juga manusia yang lebih baik.

Dari sini, peran guru mungkin terkesan minim, namun sebenarnya perannya jauh lebih besar. Membimbing  dan memotivasi siswa juga  tidak mudah. Hal ini tidak dapat dicapai hanya dengan membaca  panduan semaata, melainkan melalui pengalaman untuk bisa menyikapimuridnya.

Selain itu, dalam proses pembelajaran humaniora, siswa diberikan tanggung jawab yang lebih besar terhadap pembelajarannya sendiri, sehingga dapat mempengaruhi hasil belajarnya di masa depan. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama yang baik dan pemahaman yang seimbang antara kedua pihak.

Namun teori humanistik ini merupakan teori yang dirumuskan oleh manusia, dan tidak selalu dapat diterapkan secara merata pada semua anak karena pada dasarnya  kemampuan dan perilaku setiap orang berbeda-beda. Demikian pula teori lain seperti teori kognitif dan  teori behavioris saling terkait dan saling melengkapi.

https://matabanua.co.id/2023/11/05/teori-belajar-humanisme/




POST TERKAIT

POST TEBARU