Seberapa Pentingkah Kesehatan Mental bagi Mahasiswa

Tanggal : 23 Dec 2022

Ditulis oleh : KAMILA ISMA FADILLAH

Disukai oleh : 0 Orang

Seberapa Pentingkah Kesehatan Mental bagi Mahasiswa

Oleh: Kamila Isma Fadillah

Mahasiswa Pendidikan Kimia

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Belakangan ini marak sekali kasus bunuh diri di kalangan remaja terutama mahasiswa. Tidak sedikit dari mereka memiliki latar belakang yang sama yaitu mengalami gangguan mental. Beberapa waktu lalu tepat sebelum peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober, terjadi sebuah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa di Yogyakarta. Hal tersebut menambah catatan bahwa remaja di Indonesia banyak yang mengalami gangguan mental. Menurut riset, berbagai kemungkinan kondisi psikologis dan gangguan mental pada manusia umum terjadi atau mulai terlihat gejalanya pada usia kritis remaja atau dewasa muda.

Kesehatan mental atau kesehatan jiwa menurut seorang ahli kesehatan Merriam Webster, merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik, dimana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi, berfungsi dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Bisa disimpulkan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dimana seseorang berfungsi secara efektif di kehidupan sosial, bahagia dengan hidupnya, dan mampu menyesuaikan diri dengan tantangan yang dihadapi.

Project Leader dan Founder Emotional Health for All (EHFA) Sandersan Onie atau Sandy menyatakan terdapat sejumlah faktor yang melatarbelakangi tingginya remaja yang dinyatakan mengalami gangguan kesehatan mental. Selain faktor biologis dan genetik, lingkungan mempunyai pengaruh yang cukup besar.  Menurutnya remaja saat ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Misalnya tingginya kompetensi, perkembangan ekonomi, dan kesehatan yang fluktuatif.

Dari data dan berita yang ada dapat kita lihat bahwasanya kesehatan mental atau gangguan mental di tengah-tengah anak remaja merupakan suatu fenomena yang tidak bisa kita hindari. Sudah banyak korban-korban yang berjatuhan akibat dari gangguan mental tersebut. Rata-rata dari mereka sulit untuk menceritakan apa yang menjadi keluh-kesahnya selama ini. Serta tidak sedikit dari mereka yang mengalami intimidasi dari orang-orang sekitarnya dan juga keluarganya. Dalam hal ini orang terdekat terutama keluarga harus ikut serta ambil peran dalam mencegah gangguan itu terjadi. Orang-orang yang memiliki gangguan mental adalah mereka yang sebenarnya hanya ingin didengarkan ceritanya, bukan ditanggapi ceritanya. Mereka hanya butuh untuk didengarkan, ditemani, dan diberi suport untuk melanjutkan hari-harinya.

Terkadang mereka tidak bisa cerita bukan karena tidak ingin. Namun, mereka merasa saat mereka menceritakan apa yang membuat mereka sedih. Sebagian orang hanya ingin mengetahuinya saja bukan ingin membantu ataupun mendengarkan cerita mereka. Padahal pada saat-saat itulah seseorang sangat rawan untuk melakukan hal-hal yang merugikan untuk dirinya sendiri seperti contoh, melukai pergelangan tangan menggunakan benda tajam, bahkan sampai upaya melakukan bunuh diri. Tapi semua hal pasti ada solusinya termasuk juga masalah kesehatan mental tersebut.

Tidak semua gangguan mental dapat dicegah. Namun, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi resiko serangan gangguan mental yaitu mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian, support dari orang-orang sekitar, terbuka dengan orang yang bisa dipercaya, memperbanyak kegiatan positif, memeriksakan diri ke dokter atau psikolog untuk menjalani skrining awal kesehatan mental. Dan yang paling penting dalam hal ini adalah jangan pernah menghakimi diri sendiri atas apapun yang telah terjadi.

https://m.harianmomentum.com/read/45097/harian-momentum-edisi-19-desember-2022




POST TERKAIT

POST TEBARU