Salahkah Menjadi Seorang Perempuan?
Tanggal : 01 Mar 2022
Ditulis oleh : FADIA HAYYA TAHTA AUNIILLAH
Disukai oleh : 1 Orang
Perempuan sering kali dituntut untuk menjadi sempurna. Sempurna dari segi kepribadian, sikap, pendidikan, rupa, karir, dan lain-lain. Perempuan juga dituntut untuk melakukan pekerjaan domestik seperti memasak, namun tidak semua perempuan memiliki kemampuan tersebut. Jika seorang perempuan tidak pandai memasak, akan dipandang sebagian masyarakat adalah hal yang memalukan. Kita sering mendengar lontaran kata, “perempuan kok nggak bisa masak, besok suaminya mau dikasih makan apa?”, “perempuan itu harus bisa masak, karena tugasnya perempuan itu di dapur”. Dari perkataan yang dilontarkan tersebut, hal ini menunjukkan bahwa kultur patriarki masih melekat dalam pola pikir masyarakat Indonesia.
Patriarki, sebuah kata yang sudah tidak asing lagi kita dengar di kalangan masyarakat. Meskipun RA Kartini telah memperjuangkan hak perempuan agar dapat belajar dan bekerja untuk menjadi berdaya, nyatanya hingga saat ini budaya patriarki masih berkembang di tatanan masyarakat Indonesia. Pada saat ini, lawan perempuan bukanlah larangan untuk belajar atau bekerja, melainkan stigma buruk yang telah tertanam kepada perempuan.
Patriarki tidak hanya ada di kalangan keluarga, atau masyarakat. Bahkan dalam sosial media, budaya patriarki masih dikembangkan. Dalam sosial media, kita sering mendengar kata, “jika kamu cantik, kamu aman”, “kamu itu perempuan lho, jangan makan yang banyak, nanti jadi gendut”, “kamu kok hitam dekil sih, padahal kamu kan cewek”, “perempuan itu harus dandan, biar cantik”. Arti cantik itu beragam, ada cantik fisik dan cantik jiwa. Kecantikkan bukanlah sebuah tolak ukur seseorang, karena cantik itu relatif dan memiliki banyak makna.
Namun, di zaman milineal seperti sekarang, kecantikkan seseorang menjadi tolak ukur dan strata sosial. Rata-rata orang memandang kecantikkan hanya dari fisiknya saja. Di Indonesia sangat erat dengan pola pikir bahwa perempuan cantik itu harus berkulit putih dan mulus, berhidung mancung, berpustur tubuh tinggi dan langsing. Jika perempuan tidak memenuhi spesifikasi tersebut, maka mereka tidak termasuk dalam perempuan cantik.
Walaupun perempuan sudah berusaha memperbaiki diri, agar dihargai oleh masyarakat. Namun dalam pandangan masyarakat, perempuan sering kali dianggap lemah dan tidak berdaya. Perempuan juga sering kali hanya dianggap sebagai objek pemuas hawa nafsu saja, sehingga banyak terjadi pelecehan terhadap perempuan. Bahkan jumlah kasus kriminal kesusilaan di Indonesia meningkat selama lima tahun terakhir mencapai 31%. Dalam rentang tahun 2016 hingga 2021, jumlah kasus tersebut meningkat yang awalnya 5.237, hingga menjadi 6.872 kasus. Komnas Perempuan juga menyebut bahwa setiap 2 jam, ada 3 perempuan Indonesia yang jadi korban kekerasan seksual.
Akan tetapi, dalam kasus kekerasan seksual, masih banyak perempuan yang memilih untuk diam. Bukan karena mereka tidak mau melaporkan, tapi mereka dikelilingi oleh rasa takut. Di jaman sekarang, seringkali seorang perempuan yang menjadi korban dari kekerasan seksual, yang malah disalahkan. Entah itu dari pakaian yang dikenakan, cara mereka berjalan, atau bertingkah laku didepan publik, dan lain sebagainya. Padahal jika kita lihat dari data yang dilaporkan, bukan hanya perempuan dewasa saja yang menjadi korban, namun banyak juga anak kecil yang masih dibawah umur, bahkan belum masuk sekolah sudah menjadi korban kekerasan seksual.
Korban seharusnya didukung, bukan disalahkan. Kita sebagai sesama manusia, harus saling mendukung satu sama lain. Tapi di era saat ini, justru dukungan dari para perempuan agak sedikit menarik perhatian. Bukannya memberi dukungan sebagai perwujudan ungkapan girls support girls, malah sebaliknya, perempuan saling mencela bahkan menjatuhkan satu sama lain. Mereka saling memberikan komentar buruk, jika perempuan tersebut tidak sesuai/berbeda dengan pandangan masyarakat. Selain komentar buruk, ada juga yang memberikan pesan secara pribadi menggunakan nomor tidak dikenal atau akun palsu, untuk menyampaikan kebencian mereka terhadap seseorang.
Zaman tekhnologi semakin berkembang, maka pola pikir kita sebagai pengguna tekhnologi tersebut juga harus berkembang. Pada zaman ini, kita harus bisa saling menghargai sesama tanpa harus memandang kasta, status, dan gender seseorang. Mari membuka pandangan baru mengenai hal lama, mensupport satu sama lain, menerima kritikan atau saran, dan merubah pandangan kita terhadap orang lain bahwa setiap orang itu berbeda. Jangan menyamakan standar kita dengan standar orang lain. Seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
https://matabanua.co.id/2022/02/28/salahkah-menjadi-seorang-perempuan/