Remaja dan Insecurity : Dekat tapi Tak Bersahabat

Tanggal : 17 Apr 2021

Ditulis oleh : NUZULUL NUGRAHNASTITI

Disukai oleh : 0 Orang

Masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi memasuki masa dewasa (Rumini dkk, 2014). Batasan remaja menurut WHO (2002) adalah usia 10-19 tahun. Masa remaja adalah masa dimana mencari jati diri dan nilai dalam diri setiap manusia. Dalam masa-masa pencarian seperti ini, remaja cenderung mendapatkan hambatan dalam melakukan perubahan, seperti mempunyai rasa khawatir yang berlebih, meragukan masa depan, atau bahkan munculnya insecurity. Sebenarnya apa pengertian Insecurity itu sendiri?

Menurut Psikologi klinis, Oryza Sativa dalam Bisnis.com (22/6), Insecurity adalah perasaan tidak aman yang dialami oleh seseorang sehingga ia merasa cemas, gelisah, takut malu, hingga tak percaya diri, ketika akan melakukan sesuatu. Insecurity bisa disebabkan oleh banyak faktor. Tekanan dari dalam diri sendiri, berupa pengalaman traumatis, perasaan kesepian, merasa diabaikan, hingga minder dengan penampilan merupakan penyebab seseorang mengalami insecurity.

Insecurity merupakan kondisi mental yang wajar dialami oleh semua orang lebih-lebih lagi remaja. Bahkan, kondisi tersebut terkadang bermanfaat bagi seseorang untuk berhati-hati dalam pengambilan keputusan. Kondisi ini juga dapat memotivasi seseorang agar tidak cepat berpuas dan selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pepatah mengatakan segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, begitu juga dengan Insecurity.

Dewasa ini, remaja dan media sosial merupakan hal yang tak terpisahkan. Memang, media sosial merupakan tempat dimana remaja bisa mencurahkan pengalaman serta kegemaran mereka. Namun, media inilah yang menjadi salah satu pemicu besar munculnya insecurity. Pada remaja, insecurity disini erat kaitannya dengan ketidakpuasan akan bentuk tubuh. Remaja yang aktif ber-media sosial cenderung membandingkan bentuk tubuh mereka dengan postingan para publik figur yang diidolakan banyak orang dan dianggap “sempurna” dalam hal keindahan fisik.

Mereka melihat keindahan fisik dan bentuk tubuh yang dimiliki orang-orang tersebut dan langsung menginginkannya. Namun, dengan mengabaikan dan tidak menghargai bentuk tubuh yang sudah mereka punya. Hal ini diperkuat oleh survei dari Irish Examiner (31/03/2017) dalam rangka “Hari Kesehatan Mental Remaja sedunia” hampir 75% remaja perempuan dan laki-laki khawatir dan tidak puas dengan bentuk tubuh mereka. Bagi remaja laki-laki mereka ingin tubuh ramping dan six-pack seperti para atlet. Sedangkan, pada remaja perempuan, mereka ingin tubuh langsing dan kulit mulus tanpa cela seperti para model.

Atas ambisi memenuhi standar kecantikan tersebut, remaja rela melakukan apa saja untuk menjadi langsing dan ramping tanpa memperhatikan kesehatan mereka. Masalah kesehatan tersebut bisa berupa gangguan makan (eating disorder). Menurut survei oleh Credos Institute (2019), 56% dari 1000 partisipan yang terdiri dari remaja usia sekolah menengah, ditemukan bahwa eating disorder merupakan salah satu masalah serius yang sedang mereka hadapi.

Tingkat inseurity ini bisa semakin meningkat apabila remaja mendapat penilaian buruk atau body shaming mengenai bentuk tubuh mereka dari lingkungan sekitar mereka. Hal ini akan semakin membebani remaja dengan ekspektasi tinggi mengenai bentuk tubuh ideal. Apabila ekspektasi tersebut tidak terpenuhi mereka menjadi khawatir dan takut mendapat penilaian buruk lagi yang kemudian merujuk pada terganggunya kesehatan mental remaja.

Jenis insecurity lain yang sering menjadi permasalahan dikalangan remaja adalah social insecurity atau ketakutan menghadapi hal yang asing dan baru seperti, pindah ke kota baru, transisi dari sekolah menengah ke perguruan tinggi, bergabung dengan tim ekstrakurikuler, mendekati kelompok teman yang berbeda, atau menghadapi orang dan tempat yang tidak mereka kenal. Mereka takut dikucilkan, dianggap aneh, dan tidak diterima dalam lingkungan baru tersebut.

Kekhawatiran berlebih mengenai hal tersebut justru akan menghalangi mereka beradaptasi dengan lingkungan baru. Remaja akan membatasi diri dalam bersosialisasi dan memilih menyendiri daripada mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari lingkungan baru itu. Tanpa sadar, ketakutannya selama ini justru terjadi akibat ulah mereka sendiri.

Insecurity yang berlebihan pada remaja terhadap dirinya dan lingkungan dapat menyebabkan terganggunya mental mereka, sehingga mengakibatkan kefatalan yang serius. Kesadaran masyarakat Indonesia yang masih rendah terhadap isu ini mempunyai pengaruh besar bagi fisik dan kejiwaan seseorang. Oleh karena itu, ada beberapa cara mandiri yang bisa dilakukan oleh remaja guna mengurangi rasa insecure tersebut.

Pertama, cintai diri sendiri. Perhatikan bagian-bagian diri sendiri, baik tubuh maupun batin, yang tidak disukai. Setiap bagian diri yang tidak sempurna itu layak mendapatkan cinta. Rangkullah semua bagian diri tersebut, baik bagian yang sempurna dan yang tak sempurna, dan lihat keindahan di dalamnya. Mereka adalah apa yang membuat itu menjadi diri sendiri dan mereka luar biasa.

Kedua, jangan terlalu fokus dengan penilaian orang lain. Mulai syukuri hal hal yang terjadi dalam hidup. Hidup kita bukanlah hal yang bisa diatur oleh orang lain. Berikan penghargaan atas apapun pencapaian yang diraih dalam hidup ini. Terima dan cintai diri sendiri sepenuhnya.  

Ketiga, selalu berpikir positif. Kurangi overthinking terhadap masalah sepele. Jangan terlalu keras apalagi menganggap diri sendiri bodoh. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lakukanlah hobi yang membuat pikiran relaks dan bahagia.

Keempat, Habiskan waktu dengan orang yang dicintai. Dikelilingi dengan orang-orang yang suportif akan membantu membangun kepercayaan diri dan membuat merasa diterima apa adanya. Melihat diri sendiri melalui perspektif orang-orang yang peduli akan membantu dalam menghargai kualitas dan keunikan diri sendiri.




POST TERKAIT

POST TEBARU