Petani Milenial dan Kemajuan Negara
Tanggal : 20 Oct 2022
Ditulis oleh : SEPTY NUR FADHILAH
Disukai oleh : 1 Orang
Banyak seorang petani yang melahirkan sarjana, akan tetapi tidak banyak seorang sarjana yang mau menjadi petani begitulah kiranya. Mengapa demikian? mengapa milenial enggan menjadi petani? Mengutip dari pembahasan Putri Komarudin, seorang wakil rakyat DPR RI Jawa barat, yang menyinggung masalah petani milenial, yang akhir akhir ini viral dan banyak diperbincangkan di media sosial khususnya. Putri mengungkapkan tidak adanya petani milenial, terjadi akibat faktor diantaranya karena sulitnya mendapatkan pupuk dan justru harga gabah menurun. Kemudian, instansi pemerintah tidak mendorong, serta membantu modal, dan pemasarannya.
Harga pupuk yang mahal yang tidak sebanding dengan harga jual panen yang justru rendah. Dan apabila panen pun, hasilnya justru digunakan para petani untuk menutupi pengeluaran bulan-bulan sebelumnya. Sehingga sekarang ini banyak sawah yang tidak diurus dengan alasan setiap panen justru menjadi rugi tenaga dan juga rugi modal. Bahkan banyak petani sekarang sawahnya disewakan atau bahkan dijual.
Dalam menjalankan pertanian melewati proses yang panjang namun hasilnya saat dijual tidak seberapa. Banyak anak di desa yang justru memilih kerja di kota dibanding di sawah. Padahal mereka sudah memiliki lahan yang seharusnya bisa dikelola. Logikanya bisa dibilang, yang sudah memiliki lahan saja enggan Bertani akibat faktor tersebut, apalagi dengan yang tidak punya lahan?.
Padahal pangan menjadi ujung tombak keselamatan negara, Apabila dibiarkan saja maka lama kelamaan profesi petani akan hilang. Stok makanan akan minim dan terbatas dan akan terjadi namanya krisis pangan. Kalau tidak ada seorang petani apakan untuk mendapatkan beras saja kita harus impor.
Petani seharusnya menjadi tuan di bumi pertiwi. Mereka adalah pejuang dunia pangan yang nyata. Sekarang ini petani banyak dijadikan jualan pada masa-masa kampanye, dengan menjajikan kemajuan dan kemakmuran bagi para petani. Namun faktanya ,permasalahan pupuk yang mahal pun sampai saat ini belum terselesaikan. Padahal dulu anak seorang petani dilatih agar menjadi petani yang sukses. Tetapi sekarang banyak sawah yang dijual untuk membiayai sekolah dan kuliah anak. Itulah sebabnya anak muda diharapkan ikut aktif dalam membangun perekonomian terutama di sektor pertanian.
Banyak anak muda yang mengambil perkuliahan di bidang pertanian. Dari sini akan muncul pertanyaan, kenapa milenial pertanian tidak menciptakan pupuk sendiri dengan harga yang terjangkau dan agar tidak tergantung dari pabrik? Banyak anak milenial yang sudah menciptakan jenis pupuk terutama pupuk organik. Namun, seorang petani pasti memiliki kecenderungan ingin yang lebih cepat dan juga yang sudah pasti. Sehingga permasalahan pupuk di dunia pertanian sulit untuk diselesaikan.
Apabila ditanya apakah ada petani milenial? Jawabannya ada, tetapi tidak seberapa. Ibarat kata itu satu banding seribu. Satunya adalah milenial yang memilih menjadi petani mandiri dan seribunya adalah petani yang berharap dari instansi yang berujung pada kekecewaan.
Untuk menjadi petani milenial yang mandiri, itu tidaklah instan terutama di tengah gejolaknya permasalahan pertanian yang tak kunjung usai. Terbatasnya lahan pertanian juga menjadi faktor penghalang. Tanah yang subur dan bagus sekarang tergantikan oleh beton-beton. Di era sekarang pertanian sudah tak sesuai dengan lagu “tongkat kayu jadi tanaman”. Selain itu, untuk bisa menjadi petani milenial yang mandiri, pastinya membutuhkan modal yang besar, sehingga membutuhkan manajemen yang teratur. Kebijakan yang tidak mendukung seperti stabilitas harga jual beli juga membuat anak-anak milenial berpikir seribu kali untuk mau menjadi seorang petani.
Oleh karenanya, di zaman modern ini diharuskan kita berpikir maju dengan memanfaatkan teknologi pertanian yang ada. Jangan berfikir atau menggunakan metode bertani jaman dulu, sebab tidak akan mampu untuk bersaing dan berkembang. Bertani dengan metode modern pasti memerlukan alat yang modern juga. Lalu bagaimana caranya para petani bisa mendapatkannya? Dan sudah pasti dengan menggunakan alat yang modern memerlukan modal yang jauh lebih besar.
Untuk menjadi petani yang maju di Indonesia sepertinya bukan dari alat-alatnya yang modern dan canggih melainkan penghormatan profesi dengan memberikan harga yang layak. Selain itu edukasi tentang cara bertani yang baik dan tepat perlu diberikan kepada para petani khususnya di daerah desa, sebab banyak petani yang tidak mengerti cara mendistribusikan hasil panen dengan baik di era zaman modern saat ini. Sehingga petani mencari cara mudah dengan menjual hasil panen kepada tengkulak atau perantara yang harga jualnya relatif akan lebih murah.
Apabila masalah-masalah pertanian bisa dikurangi terutama pada masalah harga pupuk dan harga jual panen yang membuat pandangan negatif terhadap dunia petani. Maka, akan lebih mudah untuk mendorong para milenial terjun di dunia pertanian. Karena semua profesi, dan pekerjaan apabila hasilnya untung dan menjamin maka tanpa di dorong ataupun di suruh pasti seseorang akan mencarinya sendiri.
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial