Peran Remaja dalam Digitalisasi Televisi: Aktor atau Penonton?

Tanggal : 15 Nov 2022

Ditulis oleh : YUSRI HAJJO DWIPA

Disukai oleh : 0 Orang

Teknologi telah mengubah segalanya dan teknologi masa depan akan mengubah segalanya hari ini. Begitulah ungkapan mengenai perkembangan teknologi yang semakin maju menyebabkan adanya modernisasi teknologi yang mengakibatkan masyarakat membutuhkan informasi yang cepat, akurat dan terpercaya. Salah satu media penyampaian informasi yaitu televisi. Siaran televisi adalah salah satu media hiburan yang paling banyak digunakan untuk menghilangkan kebosanan.

Hasil survei konsultan riset Nielsen Indonesia, tentang perubahan perilaku konsumen, termasuk dalam hal mengkonsumsi media. Hasil pantauan Nielsen TAM di 11 kota menunjukkan rata-rata kepemirsaan TV mulai meningkat dalam  seminggu terakhir, dari rata-rata rating 12% pada tanggal 11 Maret menjadi 13,8% pada tanggal 18 Maret atau setara dengan penambahan sekitar 1 juta pemirsa TV. Program televisi Indonesia harus diawasi secara ketat terlebih program televisi untuk remaja karena banyaknya program-program yang tidak berkualitas serta menyuguhkan tontonan yang negatif sehingga berpengaruh terhadap pembentukan karakter. Menurut hasil survei pada 2019, tayangan televisi mendapat nilai di bawah skor minimal 3 yang ditetapkan komisi siaran, yaitu program anak (2,95), variety show (2,68), sinetron (2,36), dan yang paling buruk program infotainment dengan skor 2,25.

Tingginya tingkat penonton televisi merupakan  tantangan bagi penyiaran televisi. Terlebih terhadap tayangan-tayangan yang belum tersaring dan tidak mengedukasi. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menyelenggarakan Riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Tahun 2020 mengevaluasi sekitar 447 program acara televisi. Komisioner KPI Pusat, Nuning Rodiyah menjelaskan, “outcome” dari riset ini adalah untuk merubah pola menonton masyarakat agar mulai membiasakan diri menyaksikan tayangan yang baik dan berkualitas yang berasal dari referensi hasil riset KPI. Tidak dapat dipungkiri saat ini sebagian besar masyarakat kita lebih memilih program hiburan seperti sinetron, film, entertainment dan lain sebagainya. Namun, disisi lain berdasarkan riset yang telah dilakukan sebelumnya nilai kualitas tayangan-tayangan tersebut masih di bawah nilai rata-rata yang ditetapkan KPI (beritajatim.com).

Mendapatkan siaran yang berkualitas adalah hak setiap warga negara. Untuk mewujudkannya butuh dukungan semua pihak terkait tak terkecuali para remaja. Remaja sebagai representasi gen Z yang sering disebut juga generasi melek teknologi diharapkan dapat berperan aktif dalam mendukung siaran berkualitas untuk menghasilkan masyarakat yang cerdas. Para remaja dapat berpartisipasi aktif dalam mewujudkan siaran yang berkualitas untuk masyarakat cerdas salah satunya adalah dengan meminimalisir siaran yang tidak berkualitas yang tayang di televisi. Dengan pengetahuan IPTEK yang dimiliki, para remaja dapat melakukan pengaduan ke KPI mengenai siaran yang dianggap tidak berkualitas dan tidak sesuai dengan norma di masyarakat. Tayangan televisi di Indonesia masih harus tetap diawasi, siaran yang tidak pantas dapat berpengaruh buruk terhadap karakter pemuda Indonesia.

Untuk membangun siaran yang berkualitas harus dilalui dengan memastikan kemanfaatan yang optimal dalam memilih serta memilah siaran. Perkembangan dunia penyiaran yang semakin pesat harus diikuti dengan meminimalkan segi negatif  dari siaran, baik secara finansial maupun moral atau pemikiran. Sehingga dalam kondisi apapun, penyiaran dapat memberikan pengaruh dalam pembentukan karakter khususnya para generasi bangsa. Selain itu, dengan terciptanya siaran yang berkualitas dapat memperkukuh integrasi nasional, mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Penyiaran. Untuk mewujudkan siaran yang berkualitas berikut peran parlemen yang dapat dilakukan.

Pertama yaitu penanaman nilai dasar dalam penggunaan siaran melalui gerakan “Sadar Media” dan “Literasi Sejuta Pemirsa”. Kemajuan teknologi yang semakin pesat didukung dengan digitalisasi televisi menyebabkan tantangan untuk dunia penyiaran semakin berat, sehingga dibutuhkan dasar yang kuat dalam memilih serta memilah program siaran yang berkualitas. Masyarakat terutama remaja perlu mengetahui serta menguatkan pemahaman tentang kemajuan teknologi terutama dalam dunia penyiaran untuk mengurangi dampak negatif yang didapat. Selain itu kontribusi remaja sangat dibutuhkan demi terlaksananya siaran sehat, cerdas serta berkarakter.

Kedua, perlu ditetapkan tentang standarisasi program siaran televisi yang cerdas dan berkualitas. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi terdapat program yang dapat merusak karakter para generasi bangsa. Penetapan standarisasi ini perlu diikuti dengan penyaringan kembali terhadap program televisi sebelum dipublikasikan dan menjadi konsumsi masyarakat.

 

https://m.harianmomentum.com/read/44550/harian-momentum-edisi-15-november-2022

 

 

 




POST TERKAIT

POST TEBARU