Peningkatan Kepercayaan Diri Mahasiswa Melalui Perilaku Asertif

Tanggal : 15 Dec 2021

Ditulis oleh : LILIS SYAHIDATUL NISA

Disukai oleh : 0 Orang

Peningkatan Kepercayaan Diri Mahasiswa Melalui Perilaku Asertif

Oleh:

Lilis Syahidatul Nisa

Program Studi Pendidikan Kimia

Fakultas Ilmu Trabiyah dan Keguruan

UIN Sunan Kalijaga

 

Komunikasi terjadi di setiap sisi kehidupan, di dunia kampus, khususnya dalam proses belajar mengajar diperlukan komunikasi yang efektif agar proses belajar mengajar berjalan dengan efektif serta tercapai tujuan. Dibutuhkan komunikasi dua arah baik dari dosen maupun mahasiswa. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa yang lebih memilih bersikap diam, malu untuk bertanya ataupun tidak berani mengemukakan pendapat ketika proses belajar mengajar berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri yang dimiliki oleh mahasiswa masih rendah.

Menurut Davies (2006) kepercayaan diri diartikan sebagai suatu kepercayaan terhadap diri sendiri yang dimiliki oleh setiap orang dalam kehidupannya serta bagaimana orang tersebut memandang dirinya secara utuh dengan mengacu konsep diri. Percaya diri merupakan suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya mampu berperilaku seperti yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Rasa percaya diri ditunjukkan pada keyakinan bahwa seseorang dapat menyebabkan sesuatu terjadi dengan harapannya.

Hal ini berbanding terbalik apabila seorang individu tidak memiliki rasa percaya diri yang baik, dirinya tidak mampu berperilaku seperti yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan, akibat yang dapat ditimbulkan bisa bersifat negatif, dan mempengaruhi perkembangan individu tersebut. Salah satu cara untuk meningkatkan kepercayaan diri adalah dengan sikap dan perilaku asertif yang pada akhirnya komunikasi yang efektif akan tercapai. Dalam konteks permasalahan inilah, maka kampus sebagai lembaga pendidikan formal diharapkan dapat memfasilitasi bagi timbulnya sikap asertif di kalangan mahasiswa.

Sikap dan perilaku asertif bagi mahasiswa sangatlah penting karena beberapa alasan sebagai berikut: pertama, sikap dan perilaku asertif akan memudahkan remaja atau mahasiswa tersebut bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan lingkungan secara efektif. Kedua, dengan kemampuan untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan diinginkannya secara langsung dan terus terang maka para mahasiswa dapat menghindari munculnya ketegangan dan perasaan tidak nyaman akibat menahan dan menyimpan sesuatu yang ingin diutarakannya. Ketiga, dengan memiliki sikap asertif, maka para mahasiswa dapat dengan mudah mencari solusi dan penyelesaian dari berbagai kesulitan atau permasalahan yang dihadapinya secara lebih efektif. Keempat, asertivitas akan membantu para mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya, memperluas wawasannya tentang lingkungan, dan tidak mudah berhenti pada sesuatu yang tidak diketahuinya (memiliki rasa keingintahuan yang tinggi).

Dengan berperilaku asertif diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan kepercayaan dirinya sehingga mahasiswa dapat mengemukakan pendapatnya, aktif dalam proses belajar mengajar. Di sisi lain sikap asertif ini terbukti bermanfaat ketika individu berada dalam situasi yang tidak menyenangkan. Meski individu sedang dilingkupi rasa gelisah, tetap bisa berpikir dengan jernih tanpa terpengaruh oleh emosinya. Dalam kondisi emosional yang beratpun, sikap asertif dapat meminimalisasi komunikasi yang defensif yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Dalam membangun perilaku asertif terdapat beberapa pendekatan yang dapat ditempuh. Salah satunya adalah Formula 3A, yang terangkai dari tiga kata Appreciation, Acceptance, Accommodating (Susanto, 2005): a. Appreciation berarti menunjukkan penghargaan terhadap kehadiran orang lain, dan tetap memberikan perhatian sampai pada batas-batas tertentu atas apa yang terjadi pada diri mereka.

b. Acceptance adalah perasaan mau menerima, memberikan arti sangat positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang, yaitu menjadi pribadi yang terbuka dan dapat menerima orang lain sebagaimana keberadaan diri mereka masing-masing.

c. Accomodating. Menunjukkan sikap ramah kepada semua orang, tanpa terkecuali, merupakan perilaku yang sangat positif. Keramahan membuat hati kita senantiasa terbuka, yang dapat mengarahkan kita untuk bersikap akomodatif terhadap situasi dan kondisi yang kita hadapi, tanpa meninggalkan kepribadian kita sendiri.

 

http://m.harianmomentum.com/read/38129/harian-momentum-edisi-15-desember-2021 




POST TERKAIT

POST TEBARU