Melacak Jejak Deterjen di Sungai Yogyakarta: Sebuah Pengalaman Magang yang Membuka Mata
Tanggal : 17 Sep 2025
Ditulis oleh : YASHFA AZZAHRA MUTTAQINA MAFAZA
Disukai oleh : 0 Orang
Selama satu bulan menjalani magang di Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, saya menyadari bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang teori, tetapi tentang menyelami langsung kompleksitasnya. Salah satu proyek yang meninggalkan kesan mendalam adalah analisis kadar surfaktan zat aktif dalam deterjen di tiga sungai utama Kota Yogyakarta: Winongo, Code, dan Gajah Wong. Dimulai dengan menyusuri tepian Sungai Winongo dengan botol sampel di tangan. Udara lembap dan gemericik air menjadi latar yang tepat untuk memulai pengambilan data. Setiap titik sampling dipilih dengan cermat, mewakili kawasan hulu, tengah, dan hilir yang dilewati sungai. Pada setiap titik kami harus memastikan sampel benar-benar merepresentasikan kondisi sungai, tanpa terkontaminasi atau bias.
Di laboratorium, sampel-sampel itu diuji menggunakan metode Methylene Blue Active surfactant (MBAS). Dengan hati-hati, kami menambahkan reagen, mengekstraksi, dan mengamati perubahan warna yang menjadi penanda kadar surfaktan. Hasilnya kemudian dibaca menggunakan spektrofotometer sebuah alat yang mengubah warna menjadi angka yang bisa dicerna akal. Data yang terkumpul cukup mengejutkan. Sebagian besar titik pantau menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sungai Code dan Gajah Wong misalnya, memiliki kadar surfaktan yang masih di bawah baku mutu. Bahkan, di Gajah Wong, angkanya sangat rendah seperti bisik-bisik alam yang mengatakan bahwa masih ada harapan untuk menjaga kebersihan sungai.
Namun, ada satu titik di Winongo yang berbicara lain. Tepatnya di sekitar Jembatan Serangan, Wirobrajan, kadar surfaktannya mencapai 0,39 mg/L melebihi ambang batas yang ditetapkan Peraturan Pemerintah No 22 Tahun 2021 yaitu 0,2 mg/L. Angka itu mungkin terlihat kecil di atas kertas, tetapi ia bercerita tentang limbah rumah tangga yang mengalir tanpa filter, tentang kebiasaan mencuci yang masih mengandalkan sungai, dan tentang betapa dekatnya manusia dengan alam tanpa selalu sadar akan dampaknya.
Pengalaman magang ini mengajarkan saya bahwa lingkungan adalah cermin dari perilaku kita. Di balik setiap angka ada cerita, dan di balik setiap cerita ada tanggung jawab. Menjaga sungai bukan hanya tugas pemerintah, tetapi panggilan bagi setiap orang yang tinggal di sekitarnya. Magang di Dinas Lingkungan Hidup bukan sekadar memenuhi krs, tetapi juga pengingat bahwa ilmu yang kami pelajari di kampus harus turun ke tanah, menyentuh air, dan berdialog dengan realita. Seperti sungai yang terus mengalir, pengetahuan pun harus bergerak dari teori ke aksi, dari laboratorium ke alam nyata.
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial