Malu dan Asal Lulus: Resep Racun Pendidikan
Tanggal : 14 May 2025
Ditulis oleh : Muhammad Naufal Nazhif
Disukai oleh : 0 Orang
Malu dan Asal Lulus: Resep Racun Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu pilar utama pembangunan bangsa. Dalam konteks
Indonesia, pendidikan sering kali dipandang sebagai gerbang menuju kesuksesan.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya hambatan yang signifikan dalam
mencapai pendidikan yang ideal. Salah satu fenomena yang jarang dibahas tetapi
memiliki dampak besar adalah budaya malu dan mentalitas “asal lulus” di kalangan
siswa dan bahkan di antara para pendidik.
Budaya malu di sini bukanlah rasa malu yang sehat, seperti malu ketika melanggar
norma. Sebaliknya, ini adalah rasa takut untuk bertanya, takut salah, atau takut
mencoba sesuatu yang baru. Budaya ini membelenggu proses belajar karena siswa
menjadi pasif dan menghindari interaksi. Di sisi lain, mentalitas “asal lulus”, yang
ditandai dengan keinginan sekadar memenuhi standar minimum tanpa
memedulikan kualitas pemahaman, turut memperburuk situasi. Ketika kedua
fenomena ini berpadu, mereka menciptakan resep racun yang melemahkan sistem
pendidikan Indonesia.
Budaya malu diduga penghalang kreativitas dan partisipasi, budaya malu dalam
konteks pendidikan Indonesia memiliki akar yang kompleks. Banyak siswa merasa
malu untuk bertanya karena takut dianggap bodoh oleh teman sekelas atau bahkan
oleh guru. Hal ini sering kali diperparah oleh lingkungan yang tidak mendukung
diskusi terbuka. Sebagai contoh, survei yang dilakukan oleh Program for
International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa
tingkat partisipasi aktif siswa Indonesia dalam pembelajaran termasuk salah satu
yang terendah di dunia. Akibat budaya malu ini, siswa kehilangan kesempatan
untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas. Mereka
cenderung menerima informasi secara pasif tanpa berani mempertanyakan
keabsahannya. Dalam jangka panjang, hal ini menciptakan lulusan yang kurang
kompetitif di pasar global karena minimnya kemampuan problem-solving dan
inovasi.Di sisi lain, mentalitas “asal lulus” sangat mengorbankan kualitas siswa, mentalitas
“asal lulus” merupakan bentuk pragmatisme yang keliru dalam dunia pendidikan.
Fenomena ini muncul dari tekanan sistemik, baik dari sisi siswa, orang tua, maupun
sekolah. Siswa hanya berfokus pada nilai akhir atau sekadar memenuhi syarat
kelulusan, tanpa memahami esensi pembelajaran itu sendiri. Menurut data Badan
Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, sekitar 80% siswa Indonesia merasa tertekan
untuk mendapatkan nilai tinggi demi memenuhi harapan keluarga atau masyarakat.
Tekanan ini sering kali memaksa siswa mengambil jalan pintas, seperti mencontek
atau hanya belajar untuk ujian tanpa memahami materi secara mendalam. Apalagi
sejak ujian nasional dihilangkan siswa menjadi sangat kurang partisipasinya dalam
belajar, tentu ini sangat mempengaruhi perspektif siswa dalam pendidikan. Karena
biasanya siswa tidak akan berjuang atau belajar lebih keras lagi untuk menghadapi
ujian nasional yang merupakan syarat kelulusan, hal ini tentunya membuat
kebanyakan siswa tidak perlu belajar lagi dan hanya malas-malasan karena
memiliki pemikiran “tanpa belajar juga lulus kok”. Kombinasi budaya malu dan
mentalitas “asal lulus” menciptakan lingkungan pendidikan yang stagnan. Guru
kesulitan mendorong siswa untuk lebih aktif, sementara siswa hanya mengikuti
pembelajaran dengan tujuan minimalis Akibatnya, sistem pendidikan gagal
menghasilkan individu yang benar-benar kompeten dan siap menghadapi tantangan
dunia nyata.
Kebijakan yang Ada: Sudahkah Efektif? Berbagai kebijakan telah diterapkan untuk
mengatasi permasalahan dalam sistem pendidikan Indonesia. Program seperti
Kurikulum Merdeka dan pendekatan berbasis Higher Order Thinking Skills
(HOTS) dirancang untuk mendorong siswa berpikir kritis dan aktif berpartisipasi.
Namun, implementasinya masih jauh dari ideal. Misalnya, evaluasi awal
Kurikulum Merdeka pada tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya sekitar 35% guru
yang merasa cukup percaya diri menerapkan metode pembelajaran yang
menekankan pada diskusi dan kreativitas. Sebagian besar guru mengaku kesulitan
mengubah pola pikir siswa yang terbiasa dengan pendekatan tradisional, di mana
guru menjadi pusat pembelajaran. Selain itu, kebijakan penilaian berbasis
kompetensi sering kali gagal karena kurangnya dukungan infrastruktur dan pelatihan bagi pendidik. Akibatnya, siswa tetap fokus pada nilai akhir sebagai tolak
ukur utama, yang memperkuat mentalitas “asal lulus”.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan
berkelanjutan seperti Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Inklusif: Guru
perlu membangun budaya kelas yang mendukung partisipasi aktif tanpa takut
dihakimi. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan metode pembelajaran
berbasis kolaborasi, seperti diskusi kelompok kecil atau proyek bersama. Dengan
demikian, siswa merasa lebih nyaman untuk bertanya dan mengungkapkan
pendapat mereka. Mengubah Sistem Penilaian: Sistem penilaian harus lebih
menekankan proses daripada hasil. Sebagai contoh, pemberian nilai tambahan
untuk partisipasi aktif atau kreativitas dapat menjadi insentif bagi siswa untuk lebih
berani terlibat dalam pembelajaran. Pelatihan Guru yang Berkelanjutan: Pemerintah
harus menyediakan pelatihan yang berfokus pada pengembangan metode
pembelajaran interaktif. Guru yang terlatih dengan baik dapat menjadi agen
perubahan yang efektif dalam membongkar budaya malu dan mentalitas “asal
lulus”. Melibatkan Orang Tua dalam Proses Pendidikan: Orang tua perlu diberikan
pemahaman bahwa pendidikan bukan sekadar soal nilai, tetapi juga pengembangan
karakter dan keterampilan. Kampanye edukasi bagi orang tua dapat membantu
mengurangi tekanan berlebihan terhadap siswa. Pemanfaatan Teknologi untuk
Mendukung Belajar Mandiri: Platform pembelajaran digital seperti Ruangguru atau
Zenius dan masih banyak lainnya dapat digunakan untuk mendorong siswa belajar
secara mandiri. Namun, penggunaannya harus diarahkan untuk mendukung
pemahaman mendalam, bukan sekadar mempersiapkan ujian.
Budaya malu dan mentalitas “asal lulus” adalah dua racun yang merusak fondasi
pendidikan Indonesia. Jika dibiarkan, fenomena ini tidak hanya akan menghambat
pengembangan individu tetapi juga memperburuk kualitas sumber daya manusia
secara nasional. Oleh karena itu, perlu langkah-langkah nyata untuk membongkar
budaya lama yang tidak relevan dan menggantinya dengan paradigma baru yang
lebih mendukung kreativitas, partisipasi, dan pembelajaran bermakna. Pendidikan
adalah proses jangka panjang yang tidak hanya berorientasi pada hasil tetapi juga pada proses. Mengutip perkataan dari Imam Syafi’i “Pendidikan adalah investasi
jangka panjang yang memberikan keuntungan selamanya”. Bagi semua pihak, baik
pendidik, siswa, maupun orang tua, adalah untuk bersama-sama menciptakan
lingkungan yang mendorong keberanian mencoba, salah, dan belajar dari
kesalahan. Dengan demikian, generasi mendatang akan tumbuh menjadi individu
yang kompeten, kritis, dan berdaya saing tinggi di era global.
POST TEBARU
- Kimia untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Nilai Ujian
- Telaah Kritis terhadap Perubahan Kurikulum di Indonesia: Transformasi Pembelajaran atau Pergantian Program Kerja?
- Juara 3 lomba bola volly
- Simfoni Keberagaman Mengalun Damai di Tanah Pendidikan dan Kebudayaan hvs
- Whoos Ambisi Modernisasi dan Beban Finansial