Kiamat Teknologi; Kecerdasan Buatan Mengancam Umat Manusia
Tanggal : 24 Dec 2024
Ditulis oleh : AULIA NURAHMAN
Disukai oleh : 1 Orang
Oleh: Aulia Nurahman
Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memiliki potensi besar untuk membawa perubahan drastis pada kehidupan manusia, namun juga menyimpan resiko yang dapat menjadi ancaman bagi umat manusia di masa depan. Perkembangan teknologi ini sudah mencapai titik di mana manusia mulai bergantung dan melibatkan teknologi AI dalam melakukan berbagai aspek kehidupan karena dapat menganalisis serta dapat memproses sebuah data yang kita kerjakan dengan lebih cepat dan praktis berbeda dengan menggunakan cara manual yang memakan waktu lebih lama.
Teknologi AI itu sendiri adalah program yang didesain untuk berpikir dan mengambil tindakan layaknya manusia, seperti belajar, mengambil keputusan, melakukan tugas-tugas atau pekerjaan sesuai dengan yang diperintahkan dengan cepat, serta mampu belajar dari pengalaman yang membuat AI ini terus berkembang pesat setiap harinya. Dan hal inilah yang membuat CEO Tesla yaitu Elon Musk berpendapat bahwa “AI lebih berbahaya dari pada nuklir” beliau bahkan memprediksi bahwa ai bisa lebih pintar dari pada manusia.
Bagaimana tidak? Saat ini sudah marak pemakaian Asisten Virtual seperti Google Assistant, Siri, Alexa, Gemini, Chat GPT dan juga yang lainnya yang dapat membantu menyelesaikan masalah kita, seperti menjawab pertanyaan dengan memberikan informasi yang relevan dan mudah dipahami oleh pengguna, membantu dalam melakukan pekerjaan lainnya seperti mengendalikan perangkat pintar yang ada rumah dan bahkan bisa membantu kita dalam melakukan pekerjaan di kantor ataupun pendidikan di sekolah.
Sebuah data menunjukan penggunaan AI saat ini lebih banyak digunakan oleh orang-orang dengan rentan usia 18-25 tahun dimana yang jika kita lihat dari umurnya mereka adalah seorang pelajar maupun pekerja. Kenapa disebut demikian? karena Ai saat ini sudah seperti jalan pintas, contohnya di dunia pendidikan, sistem pendidikan di indonesia sedari dulu lebih menekankan seorang pelajar agar bisa memahami dan juga menalar suatu pelajaran daripada menekankan pelajar agar bisa berpikir kritis. Dan karena itulah para pelajar cenderung lebih memilih AI sebagai jalan pintas mereka karena dapat memberikan penjelasan dari suatu pemahaman dan juga penalaran tersebut dengan tepat dan juga cepat.
Hal ini dapat membuat pelajar malas dan kehilangan motivasi untuk belajar dan memecahkan masalah secara mandiri karena ketergantungannya terhadap AI serta menurunkan rasa kepercayaan pada diri pelajar karena lebih percaya pada ai dari pada dirinya sendiri. Jika para pelajar seperti ini akan bagaimana masa depan indonesia ditangan mereka nantinya?
Namun bukan hanya itu saja, teknologi AI juga dapat mengacak-acak perekonomian di dunia dan tentunya di negeri kita ini. Karena AI pada kasus terburuknya dapat mengambil pekerjaan yang dulunya dilakukan oleh manusia dengan sebuah mesin yang lebih praktis dan tidak perlu lagi membayar upah seperti pada karyawan setiap bulannya.
Laporan dari Goldman Sachs menunjukan bahwa AI dapat mengantikan 300 juta pekerjaan di seluruh dunia. Jumlah tersebut mewakili 9,1% dari semua pekerjaan yang ada di dunia. Sementara di indonesia sendiri ada 85 juta pekerjaan yang dapat berpotensi tergeser oleh pembagian kerja antara manusia dan mesin. Kita lihat saja saat ini disekitar kita AI sudah bisa menggantikan pekerja di bidang layanan pelangan atau customer service, sudah banyak tempat-tempat apalagi perkotaan yang menggunakan sistem pembayaran menggunakan mesin daripada merekrut pekerja.
Bahkan sekarang, sudah tak heran lagi jika seorang pekerja di PHK karena pekerjaannya tergantikan oleh mesin contohnya di pabrik-pabrik. Pernahkah kalian berpikir? Dalam suatu pabrik berapa orang tenaga kerja yang tergantikan oleh sebuah mesin? menurut kalian dari sekian banyaknya pabrik di negeri ini ada berapa ribu atau mungkin berapa juta orang yang pekerjaannya tergantikan oleh mesin?
Sebuah sumber mengatakan bahwa perubahan teknologi AI dalam sektor perekonomian ini tidak hanya berfungsi menghapus pekerjaan lama tapi juga menciptakan banyak pekerjaan baru. diperkirakan 100 juta pekerjaan baru akan lahir dari terciptanya perubahan ini, tapi siapa yang akan mengisi pekerjaan ini? Karena di indonesia sendiri hanya ada 19% dari tenaga kerja yang berpotensi dan dapat mengaplikasikan kemampuan digital dalam pekerjaannya.
Berdasarkan badan pusat statisika (BPS), jumlah pengangguran di indonesia pada februari 2024 mencapai 7,2 juta orang. Bisakah dari 7,2 juta orang ini mengambil alih pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh 19% tenaga kerja tersebut? Atau apakah para pelajar saat ini akan bisa mengambil alih dunia pekerjaan di masa depan nanti?
Ada sebuah kasus viral di mana sebuah warung seblak yang hanya membuka lowongan pekerjaan bagi 20 orang tiba tiba diserbu oleh para pelamar lebih dari 200 orang. Bisa kalian bayangkan untuk sebuah warung seblak saja sudah begitu banyak persaingan yang tinggi untuk posisi tersebut. Hal ini menunjukan bahwa banyak pelamar dan para pengangguran yang tidak bisa bersaing di pasar kerja karena kurangnya keterampilan khususnya dalam penggunaan teknologi AI ataupun dari pendidikannya.
Dampak dari teknologi ai bukan hanya sampai disini saja tetapi juga dapat menjadi sebuah ancaman bagi keamanan dan juga privasi kita. Sekarang ini bahkan sudah marak sekali terjadi penipuan di mana-mana. Sekarang sudah banyak AI seperti deepfakes yang dapat digunakan untuk memanipulasi video maupun audio. Membuat individu tersebut terlihat melakukan hal yang tidak benar. Contohnya pada kasus kasus yang sering terjadi seperti banyak sekali penipuan panggilan dari nomor yang tak dikenal menggunakan untuk merubah suaranya agar mirip dengan orang yang ada di sekeliling korban. Dan masih banyak kasus kasus lainnya seperti pencurian data pribadi dan modus penipuan lainnya.
Pernahkah kalian berpikir? Jika semua yang ada di muka bumi ini tergantikan oleh teknologi AI ataupun kecerdasan buatan, apa yang akan terjadi pada kita? Semua pekerjaan tergantikan oleh mesin atau lebih parahnya lagi mungkin dimasa depan nanti akan tercipta robot-robot yang akan menggantikan manusia, dan hal ini pastinya akan memicu kesenjangan sosial yang mana, orang kaya akan semakin kaya dan orang miskin akan semakin miskin.
Orang kaya, mereka mungkin akan hidup enak dengan adanya teknologi AI ini, seperti dilayani oleh mesin, mempermudah pekerjaan mereka dan masih banyak hal lainnya. Namun, apa yang akan terjadi pada kalangan menegah kebawah atau orang miskin-miskin. Mereka akan kehilangan pekerjaan mereka, hal ini saja sudah menjadi permasalahan besar karena dari mana mereka akan mendapatkan uang? Sedangkan uang adalah sumber atau kebutuhan yang memfasilitasi pertukaran barang dalam suatu perekonomian. Kalau begitu, bagaimana cara mereka bisa bertahan hidup nantinya? Banyak sekali masalah-masalah yang akan terjadi jika kita terlalu bergantung pada teknologi AI.
Kemajuan AI yang berkembang begitu pesat ini memang mengkhawatirkan. Namun sekali lagi hal ini kembali bergantung kepada diri kita sendiri, mampukah kita beradaptasi dengan perubahan AI saat ini ataupun yang akan datang nanti? Mampukah kita memanfaatkan AI dengan bijak tanpa harus begantung terus menerus? Seharusnya untuk bisa mencapai hal tersebut kita harus bisa menjaga keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan mempertahankan kemampuan kreativitas manusia, dengan cara mengedukasi para pelajar, pekerja ataupun masyarakat tentang keterampilan dasar yang diperlukan tanpa bergantung pada teknologi AI. Serta harus ada pelatihan khusus yang mengajarkan bagaimana cara penggunaan AI atau cara bertahan dari teknologi AI di masa kini ataupun nanti agar kita tidak dikendalikan oleh AI dan tidak tertinggal dengan zaman teknologi saat ini.