Jaringan Internet Lemot, Bagaimana Nasib Pendidikan?
Tanggal : 17 May 2021
Ditulis oleh : Peni Nur Febriyanti
Disukai oleh : 1 Orang
Internet merupakan salah satu hal yang sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Padahal, dahulu internet diciptakan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada proyek ARPA atau lebih kita kenal sebagai ARPANET untuk keperluan militer saja. Seiring berjalannya waktu, perkembangan internet semakin pesat dan canggih. Berbagai kegiatan baik dari sektor industri, pertanian, pariwisata, perdagangan, pendidikan dan lain sebagainya tidak terlepas dari internet. Terlebih pada masa pandemi ini semua sektor pasti akan melakukan kegiatan masing-masing secara online, dan tentu saja hal tersebut tidak akan terlepas dari yang namanya “internet”.
Pandemi Covid-19 masih melanda Indonesia selama kurang lebih satu tahun. Hal yang paling hangat perbincangkan dan menyita perhatian yaitu mengenai kendala buruknya jaringan internet di Indonesia, yang mana sudah kita ketahui sudah satu tahun lamanya semua aktivitas di berbagai sektor masih dilakukan secara daring, salah satunya sektor pendidikan. Walau pemerintah telah menyinggung bahwa akan dilakukan pendidikan new normal namun hingga saat ini kebijakan tersebut masih belum dapat dipastikan. Pembelajaran yang dilakukan secara daring membuat seluruh pelajar dituntut untuk memiliki gawai dan sudah pasti harus memiliki jaringan internet yang baik agar bisa mengikuti setiap kegiatan pembelajaran. Lantas kapankah pandemi akan berakhir? Bagaimana nasib pendidikan di daerah pelosok negeri? Apakah fasilitas disana sudah baik dan mencukupi? Atau perlukah perluasan jaringan internet ? Hal ini tentu saja menjadi pertanyaan bagi kita semua.
Seluruh pelajar baik dari PAUD/TK, SD, SMP, SMA, SMK hingga perguruan tinggi melakukan pembelajaran secara teori bahkan melakukan praktikum secara daring. Banyak diantara mereka yang mengeluh akan jaringan internet yang tiba-tiba hilang di saat pembelajaran berlangsung, bahkan ketika ujian. Sudah pasti hal tersebut merugikan dan menghambat pembelajaran. Berbeda halnya dengan pelajar di daerah pelosok, jangankan sinyal internet, memiliki gawai untuk melakukan pembelajaran saja tidak ada.Walaupun memiliki gawai sekalipun, banyak pelajar yang kesulitan mendapat koneksi internet. Banyak diantara mereka yang pergi ke hutan, mendaki bukit, bahkan memanjat pohon demi mendapat koneksi internet. Meskipun telah melakukan banyak usaha tersebut, terkadang mereka tetap tidak mendapatkan sinyal internet. Betapa mirisnya negeri ini, untuk sekedar belajar saja harus dilakukan dengan cara yang membahayakan diri.
Menyinggung program Merdeka Belajar yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim, kita tahu bahwa Merdeka Belajar memiliki makna yaitu peserta didik memiliki kesempatan untuk belajar secara bebas dan menyenangkan dengan memperlihatkan bakat dan keinginan masing-masing. Guru juga di tuntut agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengajar. Namun, dengan keadaan tersebut apakah program ini dapat terlaksana dengan baik? Agar tercipta pendidikan yang merdeka, sebaiknya pemerintah juga turut dalam memfasilitasi pendidikan, bantuan yang telah di berikan hendaknya disebarkan secara menyeluruh, bukan hanya yang berada di kota saja justru yang berada di pelosok negeri juga berhak mendapat hak berupa fasilitas yang sama. Pemerintah juga turut memberikan pelatihan-pelatihan yang bermanfaat bagi guru dan memperbaiki jaringan internet di seluruh Indonesia. Terlebih di saat pandemi seperti saat ini, semua kegiatan hanya dapat kita lakukan secara daring. Bagaimana kita akan merdeka jika fasilitas berupa jaringan internet saja tidak ada? Sayang sekali jika pendidikan terhambat hanya karena jaringan internet yang buruk. Padahal melansir dari laman Kominfo.go.id, Indonesia memiliki koneksi tercepat di Asia Pasifik. Lantas mengapa masih banyak daerah di Indonesia yang jaringan internetnya sangat lambat dan buruk?
Kita bahkan tidak tahu, sampai kapan pembelajaran via daring ini akan dilakukan. New normal yang diharapkan belum juga dapat diwujudkan. Sudah banyak kasus yang terjadi akibat jaringan internet yang lemot dan buruk tersebut. Jaringan internet yang lemot membuat banyak siswa merasa emosi dan putus asa, banyak diantara mereka lebih memilih bermain daripada mengikuti pembelajaran yang kurang lancar. Tidak hanya itu, kasus jaringan internet yang lemot juga telah merenggut nyawa seorang siswi SMA di Goa, Sulawesi Selatan. Karena banyaknya tugas dan jaringan internet yang buruk di desanya, ia nekat bunuh diri dengan cara menenggak cairan racun yang dicampurkan pada teh yang diminumnya. Dari kasus yang terjadi tersebut, dapat kita lihat betapa besar peran jaringan internet dalam kondisi saat ini. Hanya karena jaringan lemot, nyawa menjadi taruhannya.Padahal pelajar adalah generasi masa depan, penerus estafet bangsa. Kondisi pandemi seperti ini justru sebaiknya digunakan untuk ajang memperbaiki fasilitas dan membangun bangsa. Dengan adanya pandemi ini kita bisa tahu apa saja yang perlu diperbaiki, sehingga tercipta kemajuan di Indonesia.
Dengan terjadinya banyak kasus tersebut, pemerintah bahkan seluruh masyarakat dapat menilik berbagai kendala yang ada, baik dari sektor pendidikan maupun sektor lain. Jangan sampai kondisi yang sudah buruk semakin memburuk karena kurangnya perhatian dari pemerintah. Bukan saatnya kita saling menyalahkan, tetapi kita perlu saling mendukung, saling memberi masukan, dan turut membangun bangsa walau dengan cara yang berbeda-beda. Semoga jaringan internet semakin membaik, dapat tersebar luas di seluruh pelosok Indonesia dan semua fasilitas yang diberikan pemerintah dapat menjangkau seluruh wilayah di Indonesia guna terciptanya pendidikan yang semakin maju dan tidak tertinggal dengan negara lain. Tetap menjaga diri dan kebersihan, Stay safe at home, sehingga new normal segera terwujudkan.
https://www.kompas.id/kategori/opini/
https://www.kompas.id/baca/opini/2021/05/16/jaringan-internet-lemot-bagaimana-nasib-pendidikan/