Gugusan Sampah Antariksa, Bisa Mengancam Dunia?
Tanggal : 16 Dec 2023
Ditulis oleh : DWI ROHMAH STIYA
Disukai oleh : 1 Orang
Gugusan Sampah Antariksa, Bisa Mengancam Dunia?
Oleh : Dwi Rohmah Stiya
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Dewasa ini, kesuksesan teknologi antropologi oleh manusia telah menciptakan suatu kemudahan dalam bidang komunikasi. Namun, hal tersebut juga menerbitkan masalah baru yang cukup serius yaitu timbul tumpukan sampah di ruang angkasa. Lantas bagaimana hal tersebut dapat terjadi?. Bongkahan satelit non operasional, unit roket bekas, dan sampah antariksa lainnya turut berotasi di orbit bumi dan mengancam keberlangsungan aktivitas antariksa dan kehidupan umat manusia dibumi. Dalam essay tajuk ini, kita akan menelusuri terkait masalah sampah ruang angkasa, dampaknya, serta bagaimana upaya untuk mengatasi permasalahan serius ini.
Sampah antariksa merupakan gugusan objek ciptaan manusia di luar angkasa yang telah habis masa pakainya sehingga membaur dengan item-item luar angkasa lainnya. Objek ciptaan manusia ini bisa berupa satelit non fungsional, roket bekas, bahkan partikel-partikel kecil yang terlempar selama misi antariksa atau serpihannya turut terjebak di garis edar dan turut mengitari bumi. Sampah ruang angkasa dapat berasal dari beragam sumber. Semakin banyak objek di orbit, semakin besar pula potensi tabrakan dan penciptaan lebih banyak sampah.
Sampah ruang angkasa membawa dampak serius bagi satelit yang masih beroperasi serta dapat mengganggu misi antariksa masa depan. Ketidakbahayaannya tidak dapat diperkirakan dari besar kecilnya partikel sampah yang tersebar. Bahkan, tumbukan dengan partikel sekecil kacang polong dapat menyebabkan kerusakan berat sehingga mengakibatkan satelit gagal memasuki orbit yang seharusnya. Khusus untuk orbit geostasioner (GSO), sampah satelit yang sudah tidak aktif dapat mengurangi titik lokasi yang bisa digunakan satelit baru. Selain itu, satelit bekas dengan transpondernya masih aktif dapat mengganggu pancaran sinyal satelit yang masih aktif. Adapun sampah antariksa yang bertebaran di orbit rendah berisiko masuk dan menembus atmosfer bumi. Apabila bongkahan sampah tidak habis terbakar di atmosfer bumi, maka serpihannya berisiko jatuh ke daratan dan membahayakan apabila jatuh tepat di kawasan pemukiman penduduk.
Masalah sampah ruang angkasa juga mengancam keberlanjutan eksplorasi antariksa. Semakin banyak sampah di orbit, semakin sulit untuk meluncurkan, memelihara, atau menghentikan misi antariksa. Ini dapat menghambat kemajuan penjelajahan ruang angkasa manusia.
Beragam program telah dikerahkan oleh badan antariksa internasional sebagai upaya menuntaskan masalah ruang angkasa, diantaranya yaitu proyek Orion Nasa yang beroperasi sejak tahun 1970–sekarang. Ada lagi proyek yang dirancang, yaitu penghancuran sampah antariksa dengan senjata laser dimana senjata ini akan membidik dan akan menghancurkan target sampah di orbit menjadi serpihan kecil dengan waktu yang singkat. Metode lain yang direncanakan untuk mengatasi sampah antariksa adalah dengan menyertai satelit atau roket dengan sistem peledak. Sehingga unit satelit yang tidak beroperasi dapat diledakkan hingga hancur keseluruhan..
Aturan dan kode etik ruang angkasa juga diperlukan untuk menghindari penambahan lebih banyak sampah ruang angkasa ke orbit bumi. Hal ini mencakup praktik-praktik seperti menghentikan penggunaan tahapan roket yang tidak perlu di orbit atau memastikan bahwa satelit-satelit yang sudah tidak berfungsi mengalami re-entry yang terkendali.
Sampah ruang angkasa adalah masalah serius yang mengancam eksplorasi ruang angkasa manusia dan lingkungan di orbit bumi. Meskipun tantangan ini besar, beragam upaya sedang dilakukan untuk mengatasinya melalui teknologi dan regulasi yang lebih baik. Karena kedepannya manusia akan lebih banyak meluncurkan ciptaannya keluar angkasa. Sehingga, potensi sampah yang dihasilkan pun kemungkinan akan memburuk jika tidak segera ditemukan solusinya. Oleh karena itu, keberhasilan dalam menuntaskan masalah sampah ruang angkasa adalah kunci untuk menjaga ruang angkasa yang berkelanjutan, aman, dan berguna bagi manusia dan generasi mendatang.