Generasi Milenial Melek Digital Perangi Ideologi Radikal
Tanggal : 10 Nov 2021
Ditulis oleh : SOFI NIHAYATUL KAMILAH
Disukai oleh : 0 Orang
Kini perkembangan teknologi semakin pesat, dimana setiap kalangan tak mau ketinggalan dengan peralatan digital. Hal ini menimbulkan dua efek sekaligus yang saling berlawanan terhadap penggunanya. Tantangan dan peluang berdampingan, namun yang dikhawatirkan ialah tantangan pemuda dalam mencerna teknologi. Banyaknya pengakses internet yang sembarangan mengambil informasi, sehingga banyak netizen yang salah arah jalan. Karakter ini akan semakin meresahkan karena asal ikutan trend, mengikuti keviralan membagikan postingan tanpa pemilahan terlebih dulu. Sehingga generasi milenial ini sering terjebak dengan dunia perhoaxan, mengonsumsi berita secara instan, tanpa mengklarifikasi apa yang sedang diperbincangkan.
Salah satu topik yang tak pernah habis dibahas ialah perang melawan radikalisme dan terorisme. Para oknum memanfaatkan media digital untuk melahirkan generasi barunya. Pemahaman yang disebarkan menanamkan ideologi radikalisme, bahkan tidak sedikit perekrutan digencarkan. Apabila generasi milenial tidak cerdas dalam memilih informasi, pemahaman negatif akan mudah menular. Dengan ini generasi muda sedang berada dalam fase pasca literasi, dimana butuh alat propaganda yang efektif untuk meningkatkan literasi digital. Dengan memiliki penguasaan literasi ini akan meminimalkan efek negatif tadi sehingga kemajuan bangsa dapat terarah menuju persiapan era bonus demografi mendatang.
Kita pasti tidak asing dengan istilah radikalisme, definisi tersebut dipahami sebagai cara pandang yang menginginkan perubahan melalui kekerasan. Namun, disisi itu ada sisi positif apabila pemahaman diekspresikan dari sudut pandang yang baik. Sebagaimana Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyatakan, sikap radikal sedianya bermakna positif jika dimaknai sebagai sikap seseorang yang berusaha keras mencari kebenaran hingga ke akarnya dan memperjuangkannya (dilansir dari Kompas, 2020). Adapun paham negatif yang biasanya seseorang bakal maksain paham yang dia anut kepada orang lain lewat cara kekerasan ialah radical in action, hal inilah yang perlu diwaspadai.
Dilihat dari kasus-kasus yang ada bangsa ini belum bisa hidup dalam pluralitas. Bahkan tidak sedikit warga Indonesia secara terang-terangan melakukan tindakan radikal. Kalo begini tindakan harus diambil sejak dini mungkin agar tidak meresahkan seperti virus korona. Meskipun dalam memberantas radikalisme itu sulit, karena satu ditangkap satu lagi muncul dari pemahaman Ideologi radikalisme yang nempel pada pemuda kita. Hal tersebut yang membuat negeri ini tak henti dengan kasus terorisme. Bahkan yang lebih parahnya lagi media youtube menjadi salah satu pemanfaatan yang digencarkan kaum radikal. Pemahaman salah yang disebarkan akan mudah tercerna bagi generasi millennial, apalagi sekarang ini mereka akrab banget sama media sosial.
Banyaknya informasi yang bisa mereka akses, tak terkecuali informasi hoax atau palsu dan ujaran kebencian terhadap kelompok tertentu. Terkadang si pengakses hanya menerima mentah-mentah tanpa pengecekan apakah berita itu benar/salah. Berita yang ditunjukan biasanya berkenaan dengan isu SARA itulah yang bisa menjadikan konflik. Seharusnya kita sebagai generasi milenial cerdas punya tekad kuat memerangi radikalisme di era digital ini. Jadilah generasi aktif yang anti pengaruh pihak tak bermoral.
Generasi milenial yang hidup diera digital dimana bergeser dari manual ke digital. Kita harus punya kemampuan literasi digital secara bijaksana. Langkah yang dapat dilakukan dimulai dengan mengakses, dimana keterampilan dalam bermain media sosial harus bijak. Kemudian selanjutnya menyeleksi, kalo kita pandai menyeleksi, otomatis gak bakal kejebak dalam berita hoax. Tahap berikutnya memahami, dimana kemampuan kita menanggapi pesan, memahami opini yang disampaikan di lintas platform media sosial. Setelah itu, kita perlu menganalisis dimana gak langsung percaya gitu aja tapi harus dianalisis apakah kontennya itu sesuai dengan fakta yang ada.
Tahap selanjutnya memverifikasi, prosesnya membandingkan konten dengan berbagai sudut pandang, misal bandingin berita sama dengan sumber berbeda. Kalo udah terverifikasi kan gak diraguin lagi kebenarannya. Tahap keenam ialah mengevaluasi, kita harus bersikap kritis yang pada akhirnya dituntuk untuk bisa mengambil keputusan. Tahap ketujuh, menyebarkan informasi, mulai mencari, mensintesis dan nyebarin informasi dalam media sosial. Tahap delapan, membuat konten, dimana kita sendiri membuat konten sendiri dalam bentuk yang beragam. Dapat dimulai dari menulis di Facebook, membuat video atau produksi konten lainnya. Disini berarti bukan sekedar penikmat tapi pencipta yang membawa kemanfaatan bagi pembacanya. Tahap terakhir dengan berkolaborasi, dimana kita melakukan kerjasama dengan masyarakat luas untuk membuat gerakan literasi. Dengan ini, wujud melek digital ialah membangun literasi digital secara barengan dan hasilnya akan dirasakan secara menyebar luas.
redaksi koran : matabanua
link : https://drive.google.com/file/d/1OOLW2zQ1PXIrnLzBsRAEQJaRoIOMsg3w/view?usp=sharing