Blended Learning Solusi Pendidikan di Era Pandemi

Tanggal : 15 Apr 2021

Ditulis oleh : MUHAMAD ADITYA HIDAYAH

Disukai oleh : 0 Orang

Indonesia saat ini sedang dilanda oleh virus corona yang pertama kali berasal dari kota Wuhan Cina. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir seluruh negara termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan saja.Virus corona (Covid-19) ini menyerang sistem pernapasan, menyebabkan infeksi paru-paru hingga berujung kematian. Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalam rangka mencegah penyebaran virus corona. Di Indonesia telah diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Presiden Joko Widodo telah menghimbau seluruh masyarakat Indoneisa untuk bekerja dan belajar dirumah, hingga beribadah juga dirumah  selama masa pandemi Covid-19. Hal ini menyebabkan aktivitas-aktivitas diluar rumah menjadi terganggu dengan adanya virus ini.

Terhitung sejak diumumkannya wabah Covid-19 sebagai pandemi, dan diberlakukannya protokol kesehatan di berbagai negara yang berimbas pada pengurangan aktifitas kontak fisik secara langsung, menyebabkan berbagai institusi yang ada harus menyesuaikan dengan keadaan tersebut. Institusi pendidikan perguruan tinggi adalah salah satu yang harus melakukan penyesuaian dengan mengalihkan kegiatan belajar-mengajar ke sistem daring (dalam jaringan) atau tanpa tatap muka secara langsung. Pembelajaran daring menjadi alternatif yang kian membias di tengah merebaknya pandemi.

Di Indonesia sistem pembelajaran daring telah ditetapkan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 pada tanggal 24 Maret 2020 silam. Pada proses transisi dari sistem pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran daring menuntut mahasiswa, dosen, dan elemen pembelajaran lainnya untuk sesegera mungkin beradaptasi terhadap perubahan. Pembelajaran daring yang biasa digunakan tiap sekolah maupun universitas pada dasarnya merupakan model kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan menggunakan jaringan (internet) jarak jauh, dengan bantuan alat perantara seperti (gawai, laptop, dan smartphone). Agar dapat tergabung ke dalam forum belajar mengajar via daring dibutuhkan bantuan akses internet sebagai penghubung antar perangkat yang digunakan oleh pelajar dan pengajar maupun untuk mengeksplorasi. Terdapat beberapa aplikasi pendukung diantaranya seperti Google Classroom, zoom Cloud Meetings, dan ada juuga yang menggunakan media e-learnning yang disediakan oleh kampus.

Namun seperti yang kita ketahui proses pembelajaran daring yang dilaksanakan masih kurang maksimal, ada hal yang perlu di perhatikan diantaranya ialah adanya gangguan jaringan, minimnya paket data yang dimiliki, keterbatasan keuangan untuk membeli gawai pendukung, dan lain sebagainya.

Menurut Izzudin (2012:5) menyatakan bahwa blended learning pada dasarnya merupakan keunggulan pembelajaran yang di lakukan secara tatap muka (face to face learning) dan secara virtual (e-learning). Pembelajaran online atau e-learning dalam blended learning menjadi perpanjangan alami dari pembelajaran ruang kelas tradisional yang menggunakan model tatap muka (face to face learning). Dengan blended learning, kita bisa belajar dengan interaktif yang mendekati belajar langsung secara tatap muka, juga dapat di lakukan ketika mahasiswa dan dosen berada dalam jarak yang jauh atau di luar lingkup kampus. Pembelajaran ini dapat di lakukan dimana saja dengan mengatur jadwal belajar sesuai waktu yang tersedia.

Berdasarkan pemaparan permasalahan di atas, pembelajaran blended learning dapat menjadi solusi untuk sistem pembelajaran di masa pandemi. Dengan adanya blended learning proses pembelajaran online maupun offline dapat diterapkan. Melalui blended learning ini, akses pendidikan, efisiensi serta kualitas pembelajaran dan pengajaran dapat meningkat. Untuk itu penulis mencoba melakukan anaisis survei untuk mendukung opini dan mengetahui apakah blended learning menjadi pembelajaran yang efektif di era pandemi?

 

Blended learning

Saat ini program e-learning sedang menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan, seiring bertambah canggihnya teknologi akan mempengaruhi metode pembelajaran dan akan semakin cangih pula. Regulasi untuk e-learning saat ini juga sedang digodok oleh pemerintah, seperti yang diungkapkan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan “regulasi penyelenggaraan e-learning atau kuliah secara daring dalam waktu dekatakan diterbitkan pemerintah.”

Untuk beralih dari model pembelajaran tatap muka atau bertemu secara langsung, lalu berubah menjadi daring (online) itu sangat membutuhkan effort dan biaya yang tidak sedikit. Namun ini biasa dimulai dengan model blended learning. Apaitu blended learning? Menurut Semler (2005) “Blended learning combines the best aspects of online learning, structured face-to-face activities, and real world practice. Online learning sistems, classroom training, and on-the-job experience have major drawbacks by themselves. The blended learning approach uses the strengths of each to counter the others’ weaknesses.”

Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih dari pada itu sebagai elemen dari interaksi sosial.

Dalam pelaksanaan blended learning  terutama fasilitas untuk pembelajaran onlinenya guru bisa memanfaatkan berbagai layanan. Sistem pembelajaran yang menggunakan Learning Management Sistem (LMS). Menurut Ellis (2009: 1) LMS adalah aplikasi perangkat lunak untuk administrasi, dokumentasi, pelacakan, pelaporan dan penyampaian kursus pendidikan atau program pelatihan. LMS dapat dikatakan sebuah managemen pembelajaran yang disiapkan untuk siswa dan guru dalam melakukan pembelajaran melalui perangkat lunak. Adapun perangkat lunak LMS yang bias digunakan antara lain: Moodle, Canvas, Google Classroom, edmodo, Kelas Digital Rumah belajar, Blog dan lain-lain.

Berbagai layanan LMS tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru secara gratis maupun berbayar tinggal mempelajari dan memanfaatkannya dalam memfasilitasi pembelajaran online. Pembelajaran online dalam blended learning ini bisa dimaksimalkan oleh guru untuk memungkinkan siswa belajar lebih mandiri, tidak terikat waktu dan tempat bisa kapanpun dan di manapun sesuai kesanggupan siswa, dan ini bisa jadi solusi terbatasnya waktu di kelas yang sering jadi keluhan sebagian guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Blended learning Solusi Pendidikan di Era Pandemi

            Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 kementerian terkait pelaksanaan proses belajar mengajar tahun 2020-2021 tertanggal 15 Juni 2020, telahditetapkan tahun ajaran baru 2020/2021 untuk pendidikan usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengahakan dimulai pada Juli 2020. Sesuai SKB tersebut, pembelajaran tatap muka hanya boleh dilakukan pada satuan pendidikan yang beradapada zona hijau. Sedangkan satuan pendidikan yang berada dalam zona kuning, orange dan merah dilarang melakukan pembelajaran tatap muka dan tetap melanjutkan kegiatan belajar dari rumah (BDR).

Kombinasi pembelajaran on-off (online dan offline/tatap muka) menjadi solusi pihak sekolah di masa pandemi Covid-19. Pentingnya blended learning itu agar proses belajar mengajar tetap berjalan mendekati ideal. Dan yang terpenting adalah menghindari learning loss di tengah pandemi.

            Pembelajaran offline alias tatap muka sudah di uji coba di beberapa sekolah yang ada di Indonesia. Uji coba tersebut memberikan sisi positif dan negatifnya, Selain banyaknya sisi positif ada problem yang muncul dan menjadi bahan evaluasi. Misalnya bagaimana gerahnya siswa dan guru ketika mengenakan faceshield, masker, dan sarung tangan. Karena hal ini bahwa tidak dapat dipungkiri pembelajaran tatap muka menja dipenting karena pembelajaran daring alias online yang terus menerus menemui banyak kendala. Misalnya kurangnya peralatan, guru dan siswa masih belum sepenuhnya menguasai teknologi, tingkat kebosanan siswa dan paparan radiasi layar HP atau komputer.

Pembelajaran on-off alias blended learning menjadi solusinya. Pembelajaran dilakukan proporsional dengan jarak jauh. Tapi harus juga disediakan ruang interaksi alias tatap muka. Untuk itu, sistem pembelajaran blended learning harus disusun sedemikian rupa agar tetap mengedepankan kesehatan. Sehingga masalah pendidikan dan juga kesehatan ini bisa berjalan seiring.

Blended learning memiliki tujuan, yaitu guna membantu pelajar untuk berkembang lebih baik di dalam proses belajar, sesuai dengan gaya belajar dan preferensi dalam belajar, menyediakan peluang yang praktis realistis bagi guru dan pelajar untuk pembelajaran secara mandiri, bermanfaat, dan terus berkembang, peningkatan penjadwalan fleksibilitas bagi pembelajar, dengan menggabungkan aspek terbaik dari tatap muka dan instruksi online. Kelas tatap muka dapat digunakan untuk melibatkan para siswa dalam pengalaman interaktif. Sedangkan kelas online memberikan para siswa dengan konten multimedia yang kaya akan pengetahuan pada setiap saat, dan di mana saja selama pembelajaran memiliki akses internet.




POST TERKAIT

POST TEBARU