Begadang Bisa Bikin Mati Muda?

Tanggal : 04 Jan 2022

Ditulis oleh : ASSA BIQUNAL AWAAL

Disukai oleh : 0 Orang

Kata begadang sudah sangat familiar di telinga kita. Ya tentu saja, Bergadang sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan telah menjadi kebiasaan bagi beberapa orang. Tak sedikit orang yang memiliki kebiasaan begadang tersebut. Pelajar, Mahasiswa, dan Pekerja adalah kalangan-kalangan yang paling sering begadang. Mungkin dapat kita maklumi pekerjaan-pekerjaan seperti halnya satpam, polisi, dokter atau lainnya yang membutuhkan adanya shift malam, yang harus dilakukan selama 24 jam. Namun, mereka menggantinya dengan tidur siang. Lain halnya dengan para pelajar. Jika mereka memilih terjaga sepanjang malam, mereka akan kesulitan mengganti hutang tidurnya itu. Karena di pagi hari mereka sudah harus bersiap-siap untuk melaksanakan pembelajaran. Kemudian pembelajaran dimulai hingga tengah bahkan sore hari. Kebanyakan dari mereka sering begadang tanpa mengganti tidurnya dilain waktu. “Orang-orang mengumpulkan utang tidur tanpa sadar,” ujar psikiater William C. Dement, pendiri Stanford University Sleep Clinic.

Beberapa dari mereka begadang karena untuk bermain video game, menonton film, dan belajar. Hanya 2 dari 10 pelaku begadang yang benar-benar menggunakan malamnya untuk belajar. Saya kurang setuju dengan pelaku-pelaku begadang yang masih duduk di bangku pelajar ataupun mahasiswa. Mungkin tujuan dan niat mereka itu baik, mempelajari materi baru maupun yang telah diajarkan. Sebenarnya itu bagus, tapi perlu diluruskan sedikit. Belajar itu secukupnya, dalam arti jangan memaksakan hingga mengorupsi waktu istirahat kita. Ilmu memang penting, tapi jangan lupa kalau kesehatan itu mahal harganya. Jika begadang satu dua kali karena mengejar deadline oke lah. Tapi jangan sampai begadang dijadikan sebagai kebiasaan. Karena dengan begadang jelas kita akan kehilangan waktu tidur normal dimana dapat berbahaya bagi kesehatan kita.

Tubuh kita membutuhkan sekitar 7 jam untuk tidur dalam sehari. Saat tidur kita akan kehilangan kesadaran, maka seluruh energi kita difokuskan untuk melakukan recovery pada tubuh. Selama 7 jam tersebut di dalam tubuh kita terjadi penggantian sel-sel yang rusak, mengganti sel kulit, mengganti sel-sel tubuh, dan membuat otak untuk recovery dan beristirahat.

Jika kita begadang namun tidak menggantinya dan kekurangan tidur, maka tubuh kita tidak memiliki waktu untuk recovery yang cukup. Padahal sel darah merah diganti setiap 120 hari, sel kulit diganti, sel otot, mata, dan lain-lain. Banyak sel yang rusak yang tidak sempat di recovery. Yang terjadi pada tubuh adalah exhausted, adanya penumpukkan sel-sel rusak. Jika setelah begadang kita langsung beraktivitas dan tidak tidur atau istirahat, maka jantung akan bekerja over. Keadaan ini membuat sel-sel jantung bekerja ekstra, terjadi penumpukkan kelelahan di otak, dan hati tidak sempat bekerja.

Jika kebiasaan begadang rutin dilakukan, maka dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti gagal jantung, karena jantung selalu bekerja ekstra. Gagal ginjal, karena pada saat tidur terjadi penyaringan racun di tubuh yang akan dikeluarkan melalui urine di pagi hari. Sedangkan saat begadang kita dalam keadaan sadar atau tidak tidur sehingga penyaringan racun dalam tubuh tidak terjadi. Kanker, karena adanya penumpukkan sel-sel rusak dalam tubuh memicu timbulnya sel kanker. Stroke, karena otak tidak beristirahat ketika begadang yang dilanjutkan aktivitas, sehingga dapat menyebabkan kerusakan jaringan saraf otak.

Penulis utama studi, Veronica Guadagni, M.Sc., kandidat doktor di neurolab di Departemen psikologi di University of Calgary, mengatakan, “Jika individu memiliki kualitas tidur yang buruk, sehingga mereka merasa lelah maka kemampuan mereka untuk berempati akan berkurang, dibandingkan dengan orang lain yang memiliki kualitas tidur yang baik.”

Seperti yang dikatakan oleh Veronica Guadagni, M.Sc., bahwa kualitas tidur yang buruk akan mengurangi kemampuan untuk berempati. Hal tersebut merupakan salah satu contoh bahaya dari begadang atau tidur yang kurang, yaitu mengurangi empati seseorang. Disini terlihat jelas bahwa begadang tidak hanya mengganggu kesehatan fisik saja, melainkan kesehatan mental juga terkena dampaknya.

Menurut KBBI Empati dikatakan sebagai keadaan mental yang membuat seseorang merasa mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Singkatnya empati adalah keadaan dimana kita merasakan apa yang orang lain rasakan. Rasa empati sangat penting bagi manusia. Karena pada dasarnya kemampuan berempati menjadi salah satu yang memberikan kita warna dan rasa dalam hidup. Dengan empati, kita bisa membantu seseorang karena kita bisa tahu dan memahami apa yang sedang ia rasakan.

Jadi, jangan sampai karena begadang kita kehilangan rasa empati kita dan kehilangan nikmat sehat yag telah Tuhan berikan kepada kita. Lalu apakah begadang boleh? Boleh, jika keadaan memang benar-benar memaksa kita untuk melakukannya, tapi jangan rutin dan dijadikan kebiasaan. Seperti kata Rhoma Irama “Jangan begadang kalau tiada artinya”. Adapub “Hati-hati para kaum begadang, karena kamu justru menabung exhausted di tubuhmu...” ujar dokter Tirta di postingan Chanel YouTube Tirta PengPengPeng.

https://matabanua.co.id/2021/12/31/e-paper-harian-pagi-mata-banua-jumat-31-desember-2021/




POST TERKAIT

POST TEBARU